Combo Yakiniku
Suasana bandara saat itu tidak terlalu ramai. Mungkin karena kami masih terlalu pagi untuk keberangkatan suatu pesawat. Rencananya memang aku dan lelaki ku ini sengaja berangkat lebih awal untuk menikmati suasana bandara dan makan siang sebelum akhirnya lelaki ku ini akan meninggalkan aku selama beberapa hari. Aku kembali manyun membayangkan untuk beberapa hari tidak ada sosok tubuh tegap yang siap aku jahili kapanpun ini.
"Hmm.. mulai manyun-manyun ga jelas lagi." Dia yang sedang makan combo yakiniku pesanan favoritnya di tempat makan cepat saji Jepang, menegur ku.
"Aku ga mau ditinggal sih Mas." Rengek ku lagi sambil mengaduk-ngaduk makanan ku. Kali ini aku hanya memesan yakiniku original biasa. Yang tidak biasa side dish ku pesan berbagai macam menu.
Aku jadi teringat tadi saat memesan Saga mengomeli aku, "Diabisin loh. Awas kalau ga diabisin." Ku jawab hanya dengan anggukan. Sebenarnya aku yakin kalau pesanannya hanya akan ku take away.
"Dee Suraiya... mulai deh manjanya pas udah mau deket-deket aku flight. Kemarin kan sepakat ga mau ikut. Kamu juga sibuk project di sini ga bisa ditinggal." Saga sekarang sudah meletakkan sendoknya dan mulai mengelus-elus tangan ku.
"Yaa udah ga usah pergi nanti aku deh yang bilang Bang Kian, suruh siapa kek. Bang Mahe lah... ih kenapa sih harus kamu."
Liat aja si Kian sipit itu akan ku omeli habis-habisan besok. Memisahkan aku yang lagi rindu-rindunya dengan lelaki ku.
"Yaudah terus gimana? aku gausah pergi aja nih?"
"Huhu.. aku ga mau ditinggal Sayang... tapi aku juga ga mau ga profesional. Aku lagi mau deket-deket kamu aja." Rengek ku. Kali ini aku sudah menahan tangisku. Melihat reaksi ku yang begitu lebay Saga buru-buru duduk di samping ku.
"Sayang kamu tuh kenapa sih? semalem juga aku mau ke kamar mandi sampe kamu ikutin ke depan pintu. Lagi manjanya pas aku ga lagi ada kerjaan ke luar bisa ga sih?"
"Ga tau. Pokoknya lagi ga mau ditinggal. Mau ikut aja." Aku menggamit lengannya untuk ku peluk dan ku biarkan separuh kepala ku bersandar di lengan Saga.
"Kayaknya tiap aku mau tugas ke luar kamu tuh begini. Rewel." Protes Saga tapi sekarang dia sudah pasrah. Untung saja ide berangkat lebih awal agar bisa di bandara lebih lama dan menghadapi rewel ku sepertinya berhasil.
"Jangan lama-lama yaa di Aussie. Selesai langsung cus balik. Besok beres juga langsung balik. Pokoknya pulang. Aku masak lauk kesukaan kamu deh, kamu boleh makan kacang seharian penuh. Aku masak apa aja request kamu deh." Kata ku mengancam, mengomel dan membujuk sudah menjadi satu agar dia tidak lama-lama meninggalkan aku.
"Hahaha... bener yaa Sayang. Masak yaaa.. aku pulang, kamu masak." Dia tertawa mendengar ku. Senyumnya pasti akan ku rindukan. Biarin deh orang bilangnya aku lebay atau manja. Terserah. Intinya aku lagi amat sangat merindukan manusia ini dan tidak mau ditinggal olehnya.
"Iya janji. Walaupun rasanya biasa-biasa aja. Tapi pulang yaaa. Cepet yaa.." bujuk ku lagi.
"Iya sayangggg..." dibawa aku ke dalam dekapannya, erat.
Haaahhh... aku mau menangis, ku benamkan kepala ku di curuk lehernya.
"Sayang jangan bikin aku berat tinggalin kamu dong." Dia mengurai pelukan kami dan sudah melihat aku dengan mata berkaca-kaca.
"Heh, berani-beraninya pake kata tinggalin. Ralat ga, 'jangan bikin aku berat buat berangkat tugas.'" Kata ku dengan muka galak.
Aku juga tidak tahu apa yang sedang salah dengan ku, yang ku yakini adalah aku sedang sangat ingin bersamanya. Titik.
"Iya iyaaa... galak banget. Sayang udah yaa... nanti pas di ruang tunggu aku telfon. Sampai mendarat langsung aku video call juga. Udah yaa.. tuh bentar lagi aku boarding." Bujuk Saga, kali ini suaranya sudah setengah memohon. Saga tidak tahan melihat aku yang terus menerus merengek dan rewel.
Ku kuatkan diriku, melepaskan pelukannnya, "Yaudah gih sana berangkat. Aku udah gapapa."
"Ga gitu dong cantik, nanti aku temenin di jalan yaaa. Jangan ngambek dong." Saga hapal banget kalau aku sudah sok kuat tidak akan memohon lagi kepadanya. Ujung-ujungnya aku akan sebal sendiri dan ga menghubunginya.
"Gimana caranya mau temenin kamu kan di pesawat. Huh..." Aku semakin bete, tapi aku ga mau ini berlarut-larut ku peluk kembali beruang ku, iya Saga kadang kayak beruang cokelat besar, hangat, galak.
"Sayangku, Cintaku, Kekasih hatiku, hati-hati yaaa... nanti kamu pulang aku tetep manja. Kamu kerja yang bener, gausah aneh-aneh yang aku yakin kamu ga bakal aneh-aneh, aku percaya banget kamu. Aku sayang sekali kamu sampe kamu ga bisa liat deh pokoknya. Aku sayang kamu." aku berusaha menenangkannya dan membiarkannya pergi.
"Kamu tuh kalau lagi manis, manja banget aku jadi susah pergi kan."
Aku tersenyum cekikan, "Maafin hormon PMS ku yaaa. Mau mens kali makanya mau deket-deket kamu aja mau dielus-elus punggungnya pas lagi keram."
Ditoelnya hidungku, "Mensnya sekarang aja yaa Sayang. Nanti aku pulang udah bersih."
Aku pelototi dia. Dasar.
"Hahahaa... udah yaa tuh udah second call. Aku berangkat yaa Sayangku."
Aku melepas kepergiannya yang padahal hanya beberapa hari dengan lebay dan hampir ada air mata yang menetes. Aku aja sih yang lagi lebay.
Memasuki parkiran mobil dan mulai menyetir membelah kemacetan kota ini sendirian membuat ku termenung. Saga sudah berpamitan tadi jadi yang menemaniku saat ini adalah celotehan Andre Taulani bersama pasukannya di Lapor Pak.
Jika tidak ada Saga apa yang sedang ku lakukan yaa sekarang? Belum apa-apa aku sudah sangat merindukannya. Aku tidak mungkin membeli tiket untuk menyusulnya bisa-bisa aku kena amuk Bang Mahe.
"Hahhh... kangen banget."
...
Beberapa hari ini Dee sangat sulit dihubungi, membuat Saga beberapa kali harus menelfon Ethan untuk mengetahui keberadaan istrinya itu.
"Lakik lo telfon lagi tuh. Lagian kenapa ga diangkat sih?" Ethan memasuki ruangan Dee sambil mengomel.
"Gatau hp gue dimana." Jawab Dee asal memunggungi Ethan sambil menatap hiruk pikuknya Jakarta bahkan berbalik menatap Ethan saja Dee tidak mau lebih memilih melihat jalan.
"Lagi kenapa sih. Kalo kangen yaa susulin project di sini kan udah beres juga."
"Hmm... gitu yaaa? kangen sih tapi gue tuh ngerasa ga dewasa aja kalau mau menghubungi dia. Apalagi dia tipe yang kalo udah kerja juga suka ga liat hpnya. Kadang malah gue telfon dia biarin aja ga angkat. Gue males aja, ganggu dan kesannya demanding. Jadi mending biarin dia kerja aja. Tapi gue jadi sebel gituloh kayak merasa sebenarnya gue berhak ga sih ngehubungi dia. Ga tau deh lagi kangen banget-banget tapi ga mau dibilang demanding." Dia berkata sambil menghela panjang.
"Yaudah terserah lo aja, tapi itu hp dicari biar lakik lo tau lo dimana ga tiap kali harus telfon kantor nanyain lo ada diruangan udah makan atau belum, gue bukan aspri lo Dee Suraiya."
"iyaaa udah gih sana keluar. Ini gue cari deh hpnya." Decak Dee sebal.
Setelah terdengar suara pintu tertutup kembali Dee membalikan badannya dan terkejut ternyata Ethan datang tidak sendirian.
"KOK PULANG GA BILANG-BILANG SIHHHHH." Dee langsung menghampiri sosok yang amat sanagt dia rindukan itu.
"Makanya Sayang hp jangan beneran dibuang." Kata Saga mendekap Dee erat.
"Cium semuka dulu sih Sayang."
Saga tertawa lalu langsung melakukan apa yang diminta Dee.
"Langsung pulang yuk, kamu pasti capek. Aku kan janjiin juga mau masak tuh. Yukk... yukk aku beres-beres bentar."
Saga duduk melihat perempuannya merapihkan barang-barang dan tersenyum mendengar Dee bercerita tentang pekerjaannya kemarin. Lalu akhirnya dia menemukan hpnya.
"tapi aku sebel sama kamu, pulang ga ngabarin aku." Protes Dee.
"Mau ngabarin kamu super susah dihubungin apalagi kemarin. Terus tadi pagi aku udah siap-siap, mau ngabarin kamu chat aku yang semalem aja ga kamu bales. Aku tau kamu udah pulang selesai project dari status wanya Ethan. Aku udah hapal banget pasti kamu tidur ga ngabarin paginya aku udah berangkat pulang ke kamu."
"Hehehee maaf yaa Mas Saga paling ganteng semuka bumi."
"gitu aja baru bilangnya paling ganteng. Dasar. Sayang dengerin aku yaa, kalau mau ngehubungin aku yaa gapapa. Kan aku punyanya kamu. Kalau emang aku ga angakt ya berarti aku lagi sama klien atau lagi ada tamu. Tapi selama ga ada siapa-siapa atau lagi ga ada kerjaan yang penting aku tetap angkatkan." Saga memberikan pengertian kepada Dee.
"Aku paham banget, cuman kali ini tuh kayak ga wajar aja. Aku lagi kayak anak SD pacaran yang mau lait kamu 24 jam. Kamu harus sama aku terus."
"Masih manjanya berarrti nih?" Saga tersenyum jahil.
Dee sudah tahu arahnya dan hanya mengangguk, "Jadi mau pulang sekarang atau masih mau ngomal ngomel Pak Saga yang Super Duper Sibuk?"
Saga tertawa, "Ayok pulang aku makan kamu dulu baru makan masakan kamu."
"Astagfirullah Saga Bramantya, makan duluuu aku laperrrrrr..."
"Cie salting nih... salting." Saga mendekati istrinya dan mengambil tas juga menggenggam tangannya.
"Apasih Saga, diem."

0 comments: