Makan Siang Apa ya?
"Hai Iblis kecil..." Sahut Jova dari bilik kantor.
Terlihat Dee hanya menengok sedikit dari balik monitor. Kakak perempuannya itu sudah kembali setelah drama cuti melahirkan si kembar. Lebih tepatnya berhenti bekerja dan kembali menjadi wanita karir. Siapa yang bisa melarang seorang Jovanka untuk tidak kembali ke agensi mereka. Secara suaminya salah satu yang memegang kekuasaan sekarang. Hmmm.. sepertinya bahasa kekuasaan berlebihan.
"Gilaaaa yaaa, gue menyapa dengan kelembutan hati sambil bawa kopi kesukaan lo, ga ditengok sedikitpun." Jova masuk sambil duduk di sofa dan menaruh bawaannya di atas meja.
Setelah menyelesaikan beberapa ketikan dari dalam layarnya dia menghampir Jova dan mengambil satu buah kopi itu.
"Lo balik?" Tanya Dee yang jelas-jelas sudah mengetahui kabar kembalinya Jova sejak seminggu yang lalu. Eits... tentu saja bukan dari suaminya tetapi dari Kian.
"Menurut lo? Mahe ga kasi tau lo?"
Dee menggeleng dan menjatuhkan sebagian tubuhnya pada sofa tersebut setelah menyesap sedikit kopi sambil memejamkan matanya. Menatap layar terus menerus membuat kepalanya sedikit pening dan kafein yang dibawakan oleh Jova membantu untuk meredakan nyeri di kepalanya sedikit.
"Emang bener-bener laki gue tuh. Susah banget izinin bininya balik kerja." Jova ikut ngedumel. Dee tersenyum dia sangat tahu sifat proketif kaka iparnya itu yang tidak mau Jova kelelahan karena mengurusi kantor dan juga anak-anak mereka.
"Lagian lo gila, udah dikasi dua anak yang lucu-lucu dan imut masih mau ngantor aja. Sini kasi satu aja itu anak lo buat gue sama Saga."
Tatapan Jova langsung berubah datar tidak berkespektasi kalau asbun-nya Dee akan seperti itu.
"Usaha bikin sendiri lah. Walaupun lu adik gue, gila aja anak dibagi. Gue masih sanggup apalagi bapaknya. Bapaknya aja yang lebay. Gue kan kerja juga suka-suka gue."
Memang beda kalau perusahaan dia yang punya bisa ambil libur kapan aja, kalau capek tinggal cabut aja. Walaupun Dee tahu Jova bukan karakter orang yang seperti itu.
"Lagian kenapa sih keukeh banget mau balik kerja? Bang Mahe sampe ngedumel mulu kerjaannya sama laki gue. Di strap kadang tuh Saga sama Kian buat nemenin dia ngelembur." Dee menatap kakaknya meminta penjelasan.
"yaaa.. Lo kayak gak tau Mahesa aja. Dia ngomel, ngambeklah akhirnya sibuk banget kerja. Kayak semuanya diburu-buruin."
Dee mengangguk-angguk sebenarnya khas karakter laki-laki. Jova ga kekurangan apapun dari Mahesa. Uang? ada. Liburan? Mau kemana aja, gas. Mereka hidup berlebih. Kurangnya? waktu. Untuk dapetin itu semua kan memang harus ada yang dikorbanin. Mahesa jadi jarang sama anak-anaknya. Kadang-kadang si kembar nemenin bapaknya kerja tapi yaa ga sesering itu juga. Imbasnya? kalau Mahe sibuk otomatis waktu dengan Jova juga jadi lebih sedikit.
"Tapi Mba, lo pernah mikir ga kalau lo ikut kerja si kembar bakal kurang sosok bapak dan ibunya?" Dee bertanya dengan nada bisa saja tidak maksud untuk memojokan Jova dengan pertanyaan yang terlihat lebih berpihak pada sisi Mahe.
Jova menarik nafasnya panjang, "Sebenarnya itu juga jadi pikiran buat gue. Tapi gue juga ga bisa diem. Kayak ada hal yang kurang ketika gue jadi Ibu. Apalagi pas anak-anak gue tidur siang. Coba lo bayangin apalagi nanti pas anak-anak gue udah sekolah. Pas mereka sekolah gue ngapain? sekarang aja pas mereka udah mulai mau pre-school gue udah mati gaya di rumah."
"Gila ponakan gue persaan baru tiga tahun dah kok udah mau pre-school aja?" Dee mendengar itu sedikit terkejut. Sudah berapa lama dia tidak melihat si cantik dan si ganteng itu yaa? ahh.. sepertinya terakhir saat hari pernikahan dia dan Saga.
"Lo sudah hampir setahun ga ketemu ponakan-ponakan lo yang cantik dan cakep itu Dee Suraiyaaa. Jadi wajar dong gue minta balik kerja sama Mahe."
Dee menatap Jova senyam senyum, "Pasti syarat dan ketentuan berlaku kan?" Sangat paham dengan watak Mahesa.
Jova tersenyum jahil. Dee mengerti arah pembicaraan ini. Pantes saja banyak pekerjaan dilimpahkan ke dia sejak dua bulan yang lalu. Banyak project yang seharusnya bisa di direct langsung oleh Mahe tiba-tiba saja diserahkan ke Dee padahal Dee sudah memperingatkan Kian kalau dia mau rehat seminggu untuk menikmati Bali atau Lombok.
Dee melempar bantal yang ada di sofa, "Dasar. Pantesaaaannn kerjaan gue menggunung tuh. Elu mauu bulan madu lagi yaa. Yaa Tuhan bisa bentar dulu ga? Gantian gue sama Saga dulu kek?? Hellooowww gue juga butuh yang kecil-kecil imut membuat diriku dan Saga pusing."
"HAHAHAHAHAHA. Kan gue udah bawain lo kopi, berarti udah setuju dong. Sekalian dong sebelum punya trial dulu yaa pas gue hanimun. Liatin sehari dua hari lah anak-anak gue." Jova tertawa terbahak-bahak.
"Gila gue disogok cuman sama kopi seharga tiga puluh rebu." Dee mengomel kecil tapi tetap meminum kopi tiga puluh ribu itu.
"Tapi lo sama Saga lagi baik-baik aja kan?" Tanya Jova. Membuat Dee memberikan muka pertanyaan kenapa? setau Dee kehidupan rumah tangganya sedang baik-baik saja, yaa walaupun akhir-akhir ini cenderung datar tapi mereka menjalaninya dengan sangat baik.
"Yaa gue liat nih kayaknya lu makin sibuk. Hp ga tau ada dimana. Ini aja kayaknya gue mesti mencuri waktu lo."
Dee tertawa karir. Jova sangat hapal, "Jangan pernah pake muka topeng lu ya Dee."
Dee semakin tertawa, "Iyaaaaa sibuk sih. Tapi gue suka di sini. Gue suka ngatur ini itu, kerja sama orang vendor. Yes. I know. Saga suka ngomal - ngomel sih kalau udah ga kenal waktu ngatur project sampai kadang sehari sebelum project gue udah mulai susah banget dihubungi. Saga hapal banget. Tapi yaudah, Saga juga ngerti toh abis project dikasi waktu sehari dua hari tanpa gangguan full hepi-hepi. Kecuali sekarang yaaa gegara lakik luu tuh duh kerjaan gue banyak banget."
"Nah kalau kayak gitu Saga gimana?"
"Yaudah paling bentar lagi nongol karena bininya ga jawab telfon. Atau kadang kalau lagi ada waktu nemenin gue kerja sambil vicall. Nanti pas gue lagi bingung dia bantuin gue brainstorming. Dia kalau lagi kerja di studio gue temenin juga. Disempet-sempetin asal bisa sama-sama aja. Pulang kantor peluk-pelukan, pacaran lagi. Emang elu balik kantor direcokin buntut." Ledek si Iblis kecil.
Gak lama ada suara langkah kaki seorang laki-laki yang sedang mereka bicarakan.
"Sayang, hpnya dicek dong? Mau makan siang dimana? dari tadi aku telfon-telfonin kayaknya kamu ga ngeh." Saga memasuki ruangan Dee tanpa mengetahui ada Jova di dalamnya.
"Haiii..." Sapa Jova ramah karena sudah lama tidak bertemu adik iparnya ini.
ohhh pantes. Batin Saga.
Nambah lagi ini mah saingan, mbaknya udah masuk kantor.
"Ngerti kan kenapa aku dari tadi gak pegang hp? Nenek lampir ini telah bersekongkol dengan suaminya menabah pekerjaan ku, Babe. Marahin lah sekali-kali itu Si Jovanka." dumel Dee segera memeluk suaminya di depan orang yang dikatainya nenek lampir itu.
Saga berbisik sedikit, "Mana berani aku. Kamu aja yaa bagian ngomal ngomel."
"Bisa ga yaa pelak peluknya tidak di sini wahai adik-adik ku. Lo gapain Ga ke sini? Bukannya tadi di studio?" Tanya Jova.
"Si iblis kecil ini tidak menjawab ketika ditanya mau makan siang apa. Jadi gue sekalian mau jemput dia makan siang Mba. Lo mau ikut?"
"Engga deh, gue mau ke ruangan Mahe aja makan di sana. Kayaknya juga udah disiapin makan."
"Kalo bos mah emang beda sayang." celetuk Dee.
Saga mengangguk, "Iyasih. Kamu mau makan di studio aja? Nanti aku minta disiapin di studio?"
"Tuh Pak Bos sebelah juga bisa siapin makan kalau Bu bosnya mau." Ledek Jova.
Dee mengambil tas-nya memasukan hp, "Enggak, Bu bos mau makan di luar sambil kencan sama bos sebelah." Dia mengamit lengan Saga dan langsung pamit keluar.
Saga tertawa dan sekilas pamit juga dengan Jova.
Jova hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Dee.

0 comments: