Tiba-Tiba Ganti Presiden
"Tante, apa itu bahagia?" Seorang anak kecil dengan rambut dibiarkan terurai sampai bahunya bertanya pada ku. Tercetus begitu saja... aku yang sedang membaca sebuah novel menutup novel itu. Novel dengan sampul berwarna pink bertema ceria, ternyata... kita memang tidak bisa menilai sebuah buku dari sampulnya. Jangan...
"Hmmm... apa yaaa? pas Ema lagi merasa senang banget, dibelikan nenek mainan yang Ema pengen banget. Pas Ayah beliin Ema permen yang banyak sekali."
"Tapi kalo Ema makan permen yang banyak nanti Ema batuk. Berarti Ayah mau Ema batuk yaa?"
Aku tertawa, Yaa Tuhan semoga nanti celetukan-celetukan anak ku tidak seajaib sepupunya ini.
"Yaa ga gitu konsepnya cantikk..." Ku cium dengan gemas hidung keponakan ku.
"Kalau Tante? Apa yang buat Tante bahagia?" Walaupun aku tau ujungnya akan ditanyai hal seperti ini oleh keponakan ku. Aku masih saja kagum dengan umurnya yang akan menginjak tujuh tahun sudah menanyakan konsep bahagia.
Orang 'dewasa' saja sekarang amat sangat lelah mencari definisi bahagia, mungkin sekarang kami terlalu sibuk dengan bagaiaman caranya bertahan agar tidak sinting.
"Apa yaaa?"
"Masa Tante ga tau sih apa yang buat Tante bahagia? Kayak Ema dong nih dapet uang dari Tante, Ema bahagia sekaliiiii..." Ucap gadis kecil sambil memperlihatkan muka imutnya. Aku tau pasti habis ini dia akan minta yang aneh-aneh.
"Hmmm... bisa main sama Ema, Tante bahagia kok ini."
"Huh... gak asik." Dia berlali menyusul Om-nya yang sedang bermain di pantai. Aku tersenyum melihatnya berlari dan mulai bermain air. Suasana pantai kala itu sangat cerah tapi tidak sampai membuat pusing saking panasnya. Angin sepoy-sepoy menyapa kami dengan ramah seolah memberi izin untuk kami menikmati hari.
"Jadi apa bahagia itu Ra?"
Ku lempar novel yang sudah ku tutup tadi pada sahabat ku.
"Shut up. Lo paling tau gue lagi ga bisa mendefinisikan perasaan berat."
"Mau sampai kapan Ra?"
"Apanya sihhh? Gue baik-baik aja. I'm totally fine." Aku menatap matanya dengan sungguh.
"Gue tau yaaa, sampe anak gue mau berojol yang kedua, gue tau banget lo getting worse day by day. Sekarang gue tanya deh insomnia lo emang makin baik? Lo tidur sama obat hari demi hari. Kemana-mana sama obat. Ayok dong Ra... ke sini mau membaik kan? kita semua ada di sini."
Setets air mata jatuh di sore yang cerah itu.
"Pada akhirnya manusia itu sendirian Sas, kalian emang ada di sini. Tapi ga benar-benar ada. Pada akhirnya gue yang ciptakan bahagia gue sendiri, gue yang harus ciptain gak papanya gue sendiri. Gue harus tetap memilih percaya gue bisa hadapin ini semua. Gue harus percaya sama diri gue sendiri. Gue harus mampu, gue harus bisa. Jatuh bangunnya setengah mati Sas... diabaikan, ketidakpedulian titik terendah dimana gue harus terima kenyataan kalau dia udah tidak akan menengok lagi. Tidak akan."
Sasa langsung memelukku dengan erat, pertahanan ku runtuh dengan sebuah pelukan yang rasanya sudah lama sekali mencari tempat bersadarnya untuk sejenak saja.
"Kenapa yaa? Perasaan gue udah hati-hati banget buat ngasi tau diri gue jangan jatuh banget. Jangan. Sampai akhirnya gue yakin dan tulus banget. Kapan sih lo liat gue setulus dan sesayang ini sama orang? Kapan gue pernah minta ke Tuhan kalau bakal ada orang yang jadi tujuan akhir gue? Dari kecil gue harus ngerasain hidup sendirian berperang terus menerus, kali ini ajaa tolong gue mohon benar-benar menangkan gue dari pertarungan diri gue sendiri..."
"Gue benar-benar takut kalau suatu saat nanti gue bakal lupa suara dia kayak gimana, gue takut banget kalau nanti bakal ada orang yang gantiin dia, gue takut banget kalau cerita gue bukan berakhir sama dia, gue takut banget. Padahal ga seharusnya gue takut Sa. Gue yang dulu pasti bakal bilang 'Yaudah lo mulai lagi semuanya sendiri' kali ini gue ga mau. Gue mau nunggu dengan bodoh sangat bodoh sampe dia sadar, keras kepalanya bisa liat kalau gue sungguh dan benar-benar sama dia. Pengen rasa gue keplak kepalanya, terus gue bilang 'liat gue yaaa, lu keras kepala banget. Kesel banget gue elu ngeraguin gue terus' gue mau buktiin ke dia kalau ada orang yang sayang sama dia dengan sungguh bakal terus ngedukung dia ga bakal kemana-mana selelah apapun orang itu sama dia, gue tetep mau bertahan. Tapi gue takut banget Sa ketika Tuhan justru ga mau kalau gue buat begitu. Gue takut banget. Makanya sebenci-bencinya gue sama dia, senyakitin apapun perlakuan dia ke gue, kenyataan nampar gue berkali-kali, dia mengabaikan gue berkali-kali, gue selalu buka pintu buat dia. Karena gue takut... gue takut kehilangan gue dan dia."
"Terus kalau begini kapan mau sembuhnya Ra?"
"Buat apa sembuh? gue ga sakit Sasa... dan dia bukan penyebab gue sakit. Gue aja yang lemah. Justru hadirnya dia buat gue kuat. Ini karena gue lagi capek banget aja kali yaa. Please Sa... kali ini aja, biarin gue baik-baik aja. Jangan paksa gue buat sembuh atau pun berubah atau cari yang lain atau apapun. Gue sayang dia."
"Janji satu hal yaa, jangan letakin bahagianya di dia?"
"Janji. Bahagianya tetap di diri gue sendiri. Gue janji. Gue selalu janji. Gue Janji. Asal Prabowo Gibran di ganti."
Sasa melepaskan pelukannya, "Gila. emang sinting lagi nangis tiba-tiba minta ganti Prabowo sama Gibran. Ke laut aja lo sono"
Aku tertawa dengan muka ku yang jelek dan mata sembab ku.
Ya Tuhan, tolong menangkan aku.

0 comments: